| Jadih |
Padang – Dasnizar (59) adalah samudera kesabaran. Degan amat tenang ia jalani hidup di rumah nan cempang-cempong. Tiris di sana sini. Di rumah nan ringkih itu, ia belai anak-anaknya dengan kasih sayang. Berpuluh tahun lamanya. Satu di antaranya Fani, bungsu yang ia lepas ke sekolah setiap pagi. Ujung mata ibunya, mengikuti langkah si kecil sampai ia hilang di tikungan.
Ia hendak menceritakan pada Fani, jalan panjang kehidupannya. Tidak. Kisah itu disimpan dalam-dalam di dadanya. Pada gadis nan cantik itu, ia persembahkan semua rumah, rancak. Rumah yang dibangun dari sumbangan berbagai pihak.
Rumah nan terletak di Sawah Laweh, Tungkar, Situjuah Limo Nagari, Lima puluh Kota tersebut, tiga pekan lalu masih jelek, rusak parah, rapuh dimakan usia. Tak ada uang untuk membeli paku sekalipun.
Ia hendak menceritakan pada Fani, jalan panjang kehidupannya. Tidak. Kisah itu disimpan dalam-dalam di dadanya. Pada gadis nan cantik itu, ia persembahkan semua rumah, rancak. Rumah yang dibangun dari sumbangan berbagai pihak.
Rumah nan terletak di Sawah Laweh, Tungkar, Situjuah Limo Nagari, Lima puluh Kota tersebut, tiga pekan lalu masih jelek, rusak parah, rapuh dimakan usia. Tak ada uang untuk membeli paku sekalipun.
Lalu, bak membalik telapak tangan, rumah itu kini jadi surganya. Ya, sorga tempat tinggal bagi ia, suami bernama Zulkasmi (60) dan lima anak-anak mereka. Si bungsu Fani, nan masih duduk di kelas 1 SMA, bercucur air matanya. Rabu (11/4), dia peluk sang ibu.
Begitu benarlah hidup dan misterinya. Langit kalau akan terang, maka dia akan terang saja. Hati kalau akan senang, ya pasti senang saja.
Wartawan Harian Singgalang di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, Muhammad Bayu Vesky, Selasa (20/3) lalu, memotret rumah yang dihuni Ibu Dasnizar.
Kisahnya ditulis di surat kabar, Rabu (21/3) dan dibungkus dengan judul ‘Tinggal di Gubuk Reot, Cemaskan Pendidikan Anak” dan sub judul: Dasnizar Butuh Bantuan.
Secepat tuts kompoter dipencet, secepat itu pula orang-orang berhati baik tergugah. Bantuan pun berdatangan. Rumah lapuk itu dirobohkan akhir Maret. Tak lama benar menanti, sebuah rumah rancak pun berdiri. Lengkap dengan aliran listriknya. Rumah nan berusia puluhan tahun itu, baru kali ini masuk listrik.
Mereka yang membantu mendirikan rumah Dasnizar ini, adalah Baznas Limapuluh Kota dan Kodim 0306/50 Kota dengan nilai bantuan Baznas Rp7,5 juta rupiah dan minimal ada 6 tenaga TNI setiap hari. “Kita perin tahkan 6 anggota bekerja di sana. Kita kerjasama dengan Baznas,” kata Dandim Letkol Kav Solikhin.
Selain itu, bantuan datang dari pengusaha besi dan rangka baja di jalan lingkar utara Kota Payakumbuh, Edi senilai Rp10 juta dan dari pasangan suami istri Ichsan dan Welly asal Mungka Rp5 juta. Kedua donatur di atas, langsung mengantaran bantuan kepada Dasnizar dan Zulkasmi setelah menghubungi Singgalang.
Hati Edi juga tergerak, untuk membantu biaya pendidikan Fani. Kemudian bantuan via Singgalang juga datang dari Sekdakab Limapuluh Kota Taufik Hidayat Rp1 juta, dari pimpinan Bamus sejumlah Nagari di Limapuluh Kota yang dikumpulkan di grup WA Forum Bamus bernilai ratusan ribu rupiah, serta dari Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Indrawati Munir Rp500 ribu.
Sebelumnya, perantau Nagari Tungkar yang berdinas di TNI juga berkomentar soal foto rumah jelek Dasnizar kiriman Singgalang ini, di grup Ikatan Keluarga Tungkar (IKAT). Oleh perwira menengah TNI itu, diminta agar tokoh masyarakat, salah satunya Yusrizal Dt Pado menghubungi Babinsa setempat.
Babinsa juga turun ke lokasi, setelah sehari sebelumnya pihak Baznas melakukan surve. Babinsa turun, didampingi tokoh masyarakat Datuak Bandaro Panjang dan SY Dt Majo Tagantuang dan Pjs Wanag Tungkar Syahrul Isman. Dandim Solikhin lang sung mengarahkan anak buahnya dalam kegiatan bakti itu. Ada MoU antara Baznas dan TNI dengan bantuan dasar Rp7,5 juta.
Bantuan tenaga juga datang, setelah Ketua Pengurus Masjid Nurul Iman Sawah Laweh, Tungkar SY Dt Majo Tagantuang, mengarahkan tukang yang bekerja di Masjid itu, untuk mengalihkan kerja ke rumah Dasnizar dan Zulkasmi. Membantu tentara. Swadaya.
Akhirnya, sejak Maret, rumah nan dihuni keluarga miskin tersebut, dirobohkan. Ukurannya dibangun baru 6 x 6 meter. Sebelumnya rumah hanya berukuran 4 x 4. Atapnya bagus, dindingnya kuat. Rumah juga dikasih loteng. Ada lima titik instalasi listrik dipasang. Baik di kedua kamar, ruangan tamu dapur dan halaman depan.
Karena di sebelah rumah Dasnizar ada saluran air pamsimas, maka air juga dialiri ke rumah barunya. Sebelumnya, keluarga ini mandi berpuluh tahun di ‘luak” (kolam mata air tradisional,-red). Tidak ada jamban bersih di rumahnya. Sekarang, tengah dibangun toilet mini.
“Besok (hari ini,-red) rumah sudah selesai dibangun. Listrik juga sudah masuk. Aliran air sudah oke, kamar mandi mini juga sudah. Alhamdulillah, terimakasih kami kepada Harian Singgalang, TNI dan seluruh donatur,” kata Syahrul Isman, Pjs Wanag Tungkar yang juga Kasi Pemerintahan Kantor Camat Situjuah, Rabu (11/4) siang.
Role Model
Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi yang datang ke kediaman Dasnizar dan Zulkasmi Minggu (8/4) bersama rombongannya, mengaku apresiasi dengan upaya Harian Singgalang bekerjasama dengan donatur, TNI serta Pemkab dalam hal ini Baznas, melaksanakan bedah rumah secara swadaya.
“Ini menjadi role model (percontohan,-red) bagi Pemkab, untuk dilakukan di tiap nagari dengan menggandeng TNI serta kepolisian. Misal, target kita nanti, satu nagari ada 5 rumah yang diperbaiki setiap tahun. Kami mengucapkan terimakasih kepada Singgalang dan Pemnag serta Bamus Tungkar,” kata Bupati Irfendi.
Dasnizar dan suaminya Zulkasmi mengaku tidak menyangka, rumah rapuh mereka tiba—tiba sudah tidak ada dan dalam sekejap, berdiri rumah sedang nan rancak. Kini, mereka siap menghuni rumah baru. Rumah nan sekaligus kehidupan baru oleh kaum papa itu. Setiap orang wajib bahagia, begitu pula Dasnizar, Zulkasmi dan anak-anaknya.
Harian Singgalang menghaturkan, terimakasih atas bantuan seluruh pihak dan donatur. Semoga keadilan untuk kaum papa terus tegak dan nyata. (*)
Begitu benarlah hidup dan misterinya. Langit kalau akan terang, maka dia akan terang saja. Hati kalau akan senang, ya pasti senang saja.
Wartawan Harian Singgalang di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, Muhammad Bayu Vesky, Selasa (20/3) lalu, memotret rumah yang dihuni Ibu Dasnizar.
Kisahnya ditulis di surat kabar, Rabu (21/3) dan dibungkus dengan judul ‘Tinggal di Gubuk Reot, Cemaskan Pendidikan Anak” dan sub judul: Dasnizar Butuh Bantuan.
Secepat tuts kompoter dipencet, secepat itu pula orang-orang berhati baik tergugah. Bantuan pun berdatangan. Rumah lapuk itu dirobohkan akhir Maret. Tak lama benar menanti, sebuah rumah rancak pun berdiri. Lengkap dengan aliran listriknya. Rumah nan berusia puluhan tahun itu, baru kali ini masuk listrik.
Mereka yang membantu mendirikan rumah Dasnizar ini, adalah Baznas Limapuluh Kota dan Kodim 0306/50 Kota dengan nilai bantuan Baznas Rp7,5 juta rupiah dan minimal ada 6 tenaga TNI setiap hari. “Kita perin tahkan 6 anggota bekerja di sana. Kita kerjasama dengan Baznas,” kata Dandim Letkol Kav Solikhin.
Selain itu, bantuan datang dari pengusaha besi dan rangka baja di jalan lingkar utara Kota Payakumbuh, Edi senilai Rp10 juta dan dari pasangan suami istri Ichsan dan Welly asal Mungka Rp5 juta. Kedua donatur di atas, langsung mengantaran bantuan kepada Dasnizar dan Zulkasmi setelah menghubungi Singgalang.
Hati Edi juga tergerak, untuk membantu biaya pendidikan Fani. Kemudian bantuan via Singgalang juga datang dari Sekdakab Limapuluh Kota Taufik Hidayat Rp1 juta, dari pimpinan Bamus sejumlah Nagari di Limapuluh Kota yang dikumpulkan di grup WA Forum Bamus bernilai ratusan ribu rupiah, serta dari Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Indrawati Munir Rp500 ribu.
Sebelumnya, perantau Nagari Tungkar yang berdinas di TNI juga berkomentar soal foto rumah jelek Dasnizar kiriman Singgalang ini, di grup Ikatan Keluarga Tungkar (IKAT). Oleh perwira menengah TNI itu, diminta agar tokoh masyarakat, salah satunya Yusrizal Dt Pado menghubungi Babinsa setempat.
Babinsa juga turun ke lokasi, setelah sehari sebelumnya pihak Baznas melakukan surve. Babinsa turun, didampingi tokoh masyarakat Datuak Bandaro Panjang dan SY Dt Majo Tagantuang dan Pjs Wanag Tungkar Syahrul Isman. Dandim Solikhin lang sung mengarahkan anak buahnya dalam kegiatan bakti itu. Ada MoU antara Baznas dan TNI dengan bantuan dasar Rp7,5 juta.
Bantuan tenaga juga datang, setelah Ketua Pengurus Masjid Nurul Iman Sawah Laweh, Tungkar SY Dt Majo Tagantuang, mengarahkan tukang yang bekerja di Masjid itu, untuk mengalihkan kerja ke rumah Dasnizar dan Zulkasmi. Membantu tentara. Swadaya.
Akhirnya, sejak Maret, rumah nan dihuni keluarga miskin tersebut, dirobohkan. Ukurannya dibangun baru 6 x 6 meter. Sebelumnya rumah hanya berukuran 4 x 4. Atapnya bagus, dindingnya kuat. Rumah juga dikasih loteng. Ada lima titik instalasi listrik dipasang. Baik di kedua kamar, ruangan tamu dapur dan halaman depan.
Karena di sebelah rumah Dasnizar ada saluran air pamsimas, maka air juga dialiri ke rumah barunya. Sebelumnya, keluarga ini mandi berpuluh tahun di ‘luak” (kolam mata air tradisional,-red). Tidak ada jamban bersih di rumahnya. Sekarang, tengah dibangun toilet mini.
“Besok (hari ini,-red) rumah sudah selesai dibangun. Listrik juga sudah masuk. Aliran air sudah oke, kamar mandi mini juga sudah. Alhamdulillah, terimakasih kami kepada Harian Singgalang, TNI dan seluruh donatur,” kata Syahrul Isman, Pjs Wanag Tungkar yang juga Kasi Pemerintahan Kantor Camat Situjuah, Rabu (11/4) siang.
Role Model
Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi yang datang ke kediaman Dasnizar dan Zulkasmi Minggu (8/4) bersama rombongannya, mengaku apresiasi dengan upaya Harian Singgalang bekerjasama dengan donatur, TNI serta Pemkab dalam hal ini Baznas, melaksanakan bedah rumah secara swadaya.
“Ini menjadi role model (percontohan,-red) bagi Pemkab, untuk dilakukan di tiap nagari dengan menggandeng TNI serta kepolisian. Misal, target kita nanti, satu nagari ada 5 rumah yang diperbaiki setiap tahun. Kami mengucapkan terimakasih kepada Singgalang dan Pemnag serta Bamus Tungkar,” kata Bupati Irfendi.
Dasnizar dan suaminya Zulkasmi mengaku tidak menyangka, rumah rapuh mereka tiba—tiba sudah tidak ada dan dalam sekejap, berdiri rumah sedang nan rancak. Kini, mereka siap menghuni rumah baru. Rumah nan sekaligus kehidupan baru oleh kaum papa itu. Setiap orang wajib bahagia, begitu pula Dasnizar, Zulkasmi dan anak-anaknya.
Harian Singgalang menghaturkan, terimakasih atas bantuan seluruh pihak dan donatur. Semoga keadilan untuk kaum papa terus tegak dan nyata. (*)












