Jakarta – Biomassa sebagai pengganti batu bara untuk sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kini tersedia di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga akhir tahun 2024.
Biomassa ini berasal dari 150 ribu pohon yang ditanam di Gunungkidul. PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) memperkirakan dapat memasok 300 ton biomassa per tahun dari hasil penanaman pohon tersebut hingga akhir tahun 2024.
“Diharapkan nanti bisa memproduksi biomassa sebanyak 300 ton per tahunnya,” kata Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, dalam keterangan di Jakarta, Selasa (30/7/2024).
Seluruh tanaman biomassa tersebut akan diolah menjadi biomassa yang digunakan sebagai energi substitusi (co-firing) batu bara di PLTU.
Mamit menjelaskan, proyek ini bukan hanya langkah awal PLN EPI dalam menyelamatkan lingkungan dengan menargetkan nol emisi atau Net Zero Emission (NZE) pada 2060, tetapi juga sebagai respons terhadap kekurangan pakan ternak di dua kalurahan tersebut.
Program ini, menurut Mamit, berdampak positif pada masyarakat di dua kalurahan tersebut. Penduduk setempat membudidayakan berbagai tanaman yang dapat diolah menjadi energi pengganti batu bara seperti kaliandra merah, gmelina, gamal, dan indigofera. Mereka juga mengelola serbuk gergaji.
Bagian tanaman yang akan diambil oleh PLN untuk diolah adalah batangnya. Sementara itu, daunnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pakan ternak dan pewarna batik.
Namun, dari berbagai tanaman yang dibudidayakan, yang paling berhasil adalah indigofera, mengingat kemarau panjang yang melanda sejak tahun lalu.
“Jika tanaman ini sudah besar dan batangnya tinggi, maka ini yang akan digunakan sebagai produk biomassa. Jadi nanti ditebang, setelah itu dari BUMDes akan mengumpulkan dan kemudian diolah menjadi serbuk gergaji. Inilah yang akan kami lakukan ke depannya,” kata Mamit.
Sebelumnya, PLN EPI terus memperkuat rantai pasok biomassa sebagai langkah strategis mencapai NZE 2060.
Direktur Utama PLN EPI, Iwan Agung Firstantara, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengimplementasikan program co-firing, yaitu substitusi batu bara dengan biomassa pada rasio tertentu. Program ini merupakan langkah nyata menuju pencapaian NZE pada 2060.
“Indonesia memiliki potensi besar dalam menghasilkan biomassa. Pada tahun 2021, PLN Group telah menggunakan 250.000 metrik ton biomassa untuk co-firing PLTU. Tahun 2022, jumlah ini naik menjadi 500.000 metrik ton, dan pada tahun 2023 mencapai lebih dari 1.000.000 metrik ton. Tahun ini, target kami adalah menyediakan 2,2 juta ton,” kata Iwan.(BY)












