Diversifikasi Pangan Terus Digencarkan

Gubernur Sumbar Mahyeldi bersama Kadis Pangan Sumbar Efendi, Kadis Kelautan, Perikanan dan Pangan Kota Padang Guswardi dan para pemateri talkshow diversifikasi pangan serta peserta.(ist)


Padang – Selama ini upaya penganekaragaman konsumsi pangan telah dilaksanakan oleh pemerintah dengan berbagai program, dengan kontinu dan menyentuh masyarakat. Langkah ini terus digencarkan dan dimasifkan dengan harapan tercipta konsumsi pangan yang beragam dan konsumsi beras berkurang.

“Langkah itu dilakukan berlandaskan pada Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009  tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal,”kata Gubernur Sumbar Mahyeldi, Senin (20/12) dalam Talkshow  Diversifikasi Pangan Lokal di Padang.

Kendala yang dihadapi dalam diversifikasi adalah beras sebagai makanan pokok masih merupakan komoditi superior yang tersedia dalam jumlah banyak dengan harga yang relatif murah, kualitas pangan masih kurang yang hanya didominasi karbohidrat, teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras yang kurang serta adanya konsep belum makan kalau belum “makan nasi”.  

“Keadaan ini yang mengakibatkan masih rendahnya tingkat diversifikasi pangan dan konsumsi beras masyarakat Sumbar masih tinggi. Makanya, upaya masif dan inovatif sangat diperlukan di sini. Sebab yang diubah itu kebiasaan. Insyallah, kalau semua pihak bersinergis, hal itu bisa dicapai.

Baca Juga  51 Pegawai KPK Dipecat, Pakar Sebut Jokowi-MK 'Dicuekin'

Disebutkan, untuk menurunkan ketergantungan konsumsi pada jenis pangan tertentu perlu dilakukan percepatan diversifikasi pangan secara menyeluruh, sejak dari hulu sampai hilir.  Perbaikan dari hulu mencakup perbaikan teknologi budidaya, pendampingan serta penyediaan sarana dan prasarana usaha tani. 

Perbaikan dari hilir mencakup perbaikan dari sisi akses untuk mendapatkan pangan lokal, dilakukan melalui perbaikan teknologi pasca panen, perluasan skala usaha dan pemasaran melalui kemitraan dengan retail atau industri pangan. Disamping itu upaya perbaikan dari sisi pemanfaatan dapat dilakukan melalui edukasi dan promosi.

Bahkan, dalam cara menghidangkan/menyajikan makanan dalam sebuah acara/kegiatan, seperti di negara lain, hidangan utama itu non beras, seperti aneka olahan jagung, ubi kentang dan aneka buah-buahan. Kalau sudah menjadi hidangan utama, otomatis bagi pengunjug/peserta acara/kegiatan tersebut, akan menikmati makanan itu lebih dahulu.

“Setelah hidangan utama, baru nasi dan aneka sambalnya menjadi hidangan kedua/alternatif, sehingga kalaupun ada pengunjung/peserta yang mengambilnya, pasti hanya sekedarnya saja, karena sudah memakan menu makanan di hidangan utama. Ada baiknya strategi ini, juga kita lakukan. Jadi tidak hanya sebatas sosialisasi dan penyuluhan,”kata Mahyeldi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Sumbar, Ir. H. Efendi, MP mengatakan talkshow  diversifikasi pangan lokal dengan tema“ Mewujudkan Keluarga Sehat dengan Konsumsi Pangan Lokal,” itu merupakan salah satu sarana edukasi yang diharapkan dapat mengubah kebiasaan dan pola fikir masyarakat terhadap konsumsi pangan lokal non beras/non terigu. 

Baca Juga  Diduga Tenggelam TNI AL Siapkan Skenario Evakuasi KRI Nanggala-402

“Diversifikasi konsumsi pangan pokok tidak dimaksudkan untuk mengganti beras secara total tetapi mengubah pola konsumsi pangan masyarakat sehingga masyarakat akan mengkonsumsi lebih banyak jenis pangan dan lebih baik gizinya. Pangan yang dikonsumsi akan beragam, bergizi dan berimbang dan aman,” jelas Efendi.

Disadari juga program diversifikasi pangan non-beras/ non terigu memang tidak cukup hanya dilakukan dengan imbauan atau sosialisasi tentang alternatif pangan. Program diversifikasi harus mulai dijadikan kebiasaan di kalangan masyarakat. 

Pada 2020, konsumsi beras masyarakat Sumbar 97 per kg/kapita/tahun melebihi angka nasional yang berada pada angka 93 per kg per kapita per tahun. Pencapaian angka 97 per kg/kapita/tahun itu sudah menjadi lompatan cukup besar karena pada 2012 konsumsi beras masyarakat Sumbar masih tinggi yaitu 123 per kg/kapita/tahun. “Meski begitu harus terus dikejar,”katanya. (heri)


Editor : Yuniar