![]() |
| Armen Ahmad |
Padang – Kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) terus saja meningkat. Bahkan, selama wabah pandemi Covid-19, jumlah mereka yang sakit tertular virus HIV/AIDS semakin bertambah.
Itu disampaikan Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik RSUP M. Djamil dan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr. H. Armen Ahmad, SpPD-KPTI, FINASIM kepada Singgalang, kemarin.
“Jumlah mereka yang sakit HIV/AIDS dari tahun ke tahun terus meningkat. Sekitar 10 hingga 15 persen setiap tahunnya,” ucap Armen Ahmad seraya mengatakan pandemi Covid-19 tak menghalangi mereka. Bahkan, selama pandemi Covid-19 memudahkan mereka berinteraksi dan kurangnya pengawasan/kontrol dari masyarakat untuk mereka.
Lebih lanjut Armen Ahmad menjelaskan, masyarakat LGBT ada dua kelompok. Kelompok yang benar-benar percaya akan adanya virus Corona yang cukup menularkan itu. Kemudian ada kelompok masyarakat yang menyatakan kalau wabah pandemi ini hanya hoax saja. Ditambah pula angka partisipasi ikut vaksinasi di Sumatera Barat hanya 37 persen.
“Kelompok yang menganggap ini pandemi itu ada, tentu takut keluar rumah. Otomatis banyak tempat kosong seperti hotel, penginapan kecil-kecilan dan kos-kosan sehingga semakin memudahkan mereka keluar dengan aman. Apalagi, kelompok masyarakat yang percaya ada Covid-19, sibuk dengan diri sendiri, sehingga tidak begitu fokus melakukan pengawasan untuk mereka lagi,” ucapnya.
Ditegaskannya, jumlah korban kaum LGBT itu terus bertambah, karena kebutuhan seks mereka ketika pandemi ataupun tidak, sama saja. Menariknya, ditengah pandemi mereka merasa aman untuk berinteraksi, karena kurangnya pengawasan dari masyarakat. Belum lagi, tempat nongkrong yang menjadi lokasi mereka bersosialisasi sepi, sehingga abaikan kontrol prokes. Alhasil, bisa saja diantara mereka yang memiliki perilaku menyimpang ada yang terpapar Corona.
Untuk itu, Armen mengimbau agar mereka mematuhi prokes, dengan tetap menggunakan masker, menjaga jarak minimal semeter, mencuci tangan dengan sabun ataupun hand sanitizer.
Tak hanya itu, Armen pun memberikan masukkan kepada pemerintah untuk melakukan pengawasan di tempat yang homogen, seperti pondok pesantren, asrama hingga perguruan tinggi. Berikan pengawasan internal seperti CCTV ataupun bentuk tim pengawasan. Dan lakukan tes HIV/AIDS secara berkala. Selanjutnya, ia meminta ada peraturan yang dikeluarkan pemerintah kepada pasangan yang akan menikah. Seperti dengan melakukan tes HIV/AIDS. Tujuannya meminimalisir perilaku menyimpang dari pasangan. (yuni)













