Jakarta – Pasar mobil listrik di wilayah Asia Tenggara (ASEAN) tengah mengalami peningkatan yang signifikan, menarik minat sejumlah produsen untuk memasuki ranah tersebut. Langkah ini juga menarik perhatian Tesla, brand mobil listrik terkenal asal Amerika Serikat.
Tesla, yang sedang berupaya meningkatkan penjualannya setelah kehilangan saham pasarnya oleh brand asal China, BYD, juga mengincar ASEAN sebagai pasar utama selanjutnya.
Wakil Presiden Kebijakan Publik dan Pengembangan Bisnis Tesla, Rohan Patel, menyatakan bahwa Asia Tenggara memiliki potensi besar dalam hal penyimpanan baterai dan adopsi kendaraan listrik. Pernyataan ini disampaikan melalui cuitan di akun Twitter sebagai tanggapan atas pengiriman pertama mobil model Y di Malaysia. Tesla juga dikenal menjual sedan compact Model 3 di Malaysia.
Malaysia telah memberikan izin kepada Tesla untuk menjual mobil listriknya di negara tersebut pada tahun lalu. Perusahaan ini juga berencana untuk membangun infrastruktur pengisian baterai di sana. Selain Malaysia, Tesla juga sedang dalam pembicaraan untuk memperluas operasional bisnisnya ke negara ASEAN lainnya, termasuk Thailand, yang merupakan produsen dan eksportir mobil terbesar di Asia Tenggara.
Menurut laporan Teslarati pada Sabtu (16/3/2024), Tesla telah hadir di beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Elon Musk, CEO Tesla, telah berkomunikasi dengan beberapa pemimpin ASEAN, termasuk Perdana Menteri Anwar Ibrahim dari Malaysia, Perdana Menteri Srettha Thavisin dari Thailand, dan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi).
Beberapa pemimpin ASEAN telah mencoba meyakinkan Tesla untuk berinvestasi di negaranya masing-masing. Jokowi, misalnya, telah berdiskusi dengan Elon Musk mengenai pembangunan gigafactory Tesla di Indonesia. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada indikasi konkret bahwa Tesla akan melakukan investasi di Indonesia.
Sementara BYD, secara agresif telah memasukkan tiga model mobil listriknya ke pasar Indonesia. Mereka juga berkomitmen untuk membangun pabrik di Indonesia. Berbeda dengan strategi Tesla yang langsung berhubungan dengan konsumen, BYD memilih untuk bermitra dengan konglomerat lokal untuk memperluas jangkauan, menguji preferensi konsumen, dan menavigasi kebijakan pemerintah di ASEAN.(BY)












