Warga Sambau Keluhkan Air Bersih Mati

Ratusan emak-emak memblokade jalan di Kota Batam
Ratusan emak-emak memblokade jalan di Kota Batam

Jakarta – Ratusan warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, menggelar aksi protes dengan menutup akses jalan menuju kawasan Nongsa Digital Park (NDP). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap krisis air bersih yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan.

Mayoritas peserta aksi merupakan ibu-ibu. Mereka membawa berbagai perlengkapan rumah tangga, mulai dari gayung, jeriken, botol galon, timba, hingga ember sebagai simbol sulitnya mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Warga menduga kondisi Waduk Nongsa yang semakin mengering berkaitan dengan aktivitas pembangunan kawasan industri data center di sekitar wilayah tersebut. Mereka menilai persoalan pasokan air telah semakin menyulitkan kehidupan masyarakat.

Di tengah krisis, bantuan air bersih yang didistribusikan menggunakan mobil tangki dari pengelola Waduk Duriangkang dianggap belum mampu memenuhi kebutuhan warga. Akibatnya, masyarakat terpaksa membeli air secara mandiri dengan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran normal.

Baca Juga  Kolam Penampungan Jadi Lokasi Kematian Anak di Sumsel

Dalam satu pekan, warga mengaku harus mengeluarkan sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 untuk memperoleh air bersih. Jumlah tersebut jauh melampaui biaya yang biasanya mereka keluarkan, yakni sekitar Rp45.000 per bulan untuk tagihan air.

Warga juga mempersoalkan tagihan air yang tetap harus dibayarkan meskipun aliran air ke rumah mereka terhenti sepenuhnya. Kondisi tersebut semakin menambah beban masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan air bersih.

Sementara itu, pihak pengelola menjelaskan bahwa berkurangnya pasokan air bukan disebabkan oleh pembangunan data center. Penurunan produksi Waduk Nongsa disebut terjadi akibat kemarau yang menyebabkan debit air menurun secara signifikan.

Baca Juga  300 Personel Brimob Diterjunkan, Polri Fokus Buka Jalur Logistik dan Air Bersih di Aceh Tamiang

“Krisis air ini bukan karena proyek data center yang baru pembangunan dan penggunaan airnya sangat kecil. Penurunan distribusi air Waduk Nongsa terjadi murni karena kemarau. Produksi yang biasanya 90 liter per detik, hari ini turun drastis tinggal 2,5 liter per detik. Pasokan ke warga akan disokong dari Waduk Duriangkang,” ujar Denny Tondano.(des*)