Sebelum Beli Mobil Listrik Bekas, Cek Ini

Mobil listrik bekas mulai diburu masyarakat.
Mobil listrik bekas mulai diburu masyarakat.

Jakarta – Pasar mobil listrik bekas mulai mendapat perhatian seiring bertambahnya kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Meski menawarkan peluang mendapatkan kendaraan dengan harga lebih terjangkau, calon pembeli tetap perlu melakukan pemeriksaan lebih mendalam sebelum menentukan pilihan.

Salah satu bagian yang paling mendapat perhatian adalah baterai. Komponen tersebut memiliki peran vital dalam menentukan kemampuan mobil listrik, sehingga kondisinya menjadi faktor penting bagi konsumen yang ingin membeli kendaraan listrik dalam kondisi bekas.

Selain baterai, calon pembeli juga mulai memperhitungkan berbagai pengeluaran setelah kendaraan dimiliki. Biaya operasional, perawatan, sisa masa garansi, hingga potensi nilai kendaraan ketika kembali dijual menjadi bagian dari pertimbangan.

Pemilik Garasi 91 sekaligus pemerhati otomotif, Ferdian Kusuma Putra, menilai pola pikir konsumen kendaraan bekas kini mengalami perubahan. Menurutnya, pembeli tidak lagi hanya terpaku pada nominal yang harus dibayarkan saat transaksi.

Konsumen, lanjut Ferdian, juga berusaha mengetahui berapa besar biaya yang perlu disiapkan untuk menggunakan dan merawat kendaraan tersebut dalam jangka panjang.

Baca Juga  Mobil Lama Menganggur Berisiko Korosi, Begini Cara Mencegahnya

Dengan pertimbangan seperti itu, harga pembelian hanya menjadi salah satu komponen dalam menghitung total biaya kepemilikan kendaraan.

Bagi mobil listrik, pemeriksaan baterai menjadi semakin penting. Pembeli perlu mengetahui sejauh mana kemampuan baterai masih dapat menunjang kebutuhan berkendara, sekaligus memastikan apakah kendaraan tersebut masih memperoleh perlindungan garansi.

Kekhawatiran mengenai baterai juga sempat dirasakan Chintia Aswanti, 31 tahun, ketika mulai mencari mobil listrik bekas. Ia awalnya membayangkan kerusakan baterai dapat menimbulkan pengeluaran yang sangat besar.

Namun, setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Chintia melihat bahwa kondisi baterai, jaminan kendaraan dan ongkos pemakaian sehari-hari justru lebih penting dibanding sekadar mencari harga mobil yang murah.

Ferdian mengatakan ketertarikan terhadap mobil listrik bekas memang mulai tumbuh. Meski demikian, konsumen cenderung lebih berhati-hati sebelum menjatuhkan pilihan.

Mereka biasanya mencari informasi secara detail mengenai kesehatan baterai, kebutuhan perawatan, serta biaya yang harus dikeluarkan selama kendaraan digunakan.

Sementara itu, mobil bermesin konvensional yang telah lama berada di pasar kendaraan bekas masih memiliki keunggulan dari sisi pemahaman konsumen. Masyarakat umumnya sudah mengetahui kisaran biaya servis, lebih mudah menemukan bengkel, serta memiliki akses yang lebih luas terhadap suku cadang.

Baca Juga  Wuling Motors Persiapkan Kejutan, Dua Mobil Baru Meluncur di IIMS 2025

Situasi tersebut membuat keputusan membeli mobil listrik bekas tidak bisa hanya didasarkan pada selisih harga dengan kendaraan baru atau harga jual yang murah.

Riwayat kendaraan, kondisi baterai, garansi, ongkos penggunaan dan kesesuaian mobil dengan kebutuhan sehari-hari perlu diperiksa secara bersamaan.

Karena itu, calon pembeli disarankan melakukan pemeriksaan kendaraan secara menyeluruh sebelum menyelesaikan transaksi. Langkah tersebut penting agar harga yang terlihat ekonomis di awal tidak berubah menjadi beban biaya yang lebih besar selama masa kepemilikan.(BY)