Arosuka – Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mencatat kerugian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayahnya mencapai sekitar Rp1,9 triliun. Meski kerusakan cukup besar, bencana ini tidak menimbulkan korban jiwa.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Solok, Sabtu (11/1). “Total kerugian diperkirakan sekitar Rp1,9 triliun, namun alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ujarnya.
Jon Firman menjelaskan, bencana ini berdampak luas terutama di wilayah barat Kabupaten Solok yang berada di sepanjang Bukit Barisan. Dari 14 kecamatan, 12 kecamatan terdampak langsung.
“Sebanyak 12 kecamatan mengalami dampak bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu,” tambahnya.
Dampak bencana ini terasa di berbagai sektor, termasuk perumahan, infrastruktur, sosial, serta ekonomi masyarakat. Untuk mempercepat pemulihan, Bupati Solok meminta dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian/lembaga terkait melalui Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Kabupaten Solok yang telah disusun.
Sebelumnya, Pemkab Solok aktif mengikuti Rapat Koordinasi Sinergitas Dokumen R3P Sumatera Barat Tahun 2025 di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat, Kamis (8/1). Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Solok menandatangani Dokumen R3P dan menyerahkannya kepada Sekretaris Utama BNPB RI, untuk mendukung pemulihan pascabencana secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan.
Bupati Solok berharap sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota terus diperkuat agar rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan optimal dan kehidupan masyarakat cepat pulih.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Solok, Medison, mengatakan dokumen R3P disusun dalam waktu sekitar satu setengah bulan dan kini telah diserahkan ke BNPB. Dokumen ini mencakup lima sektor utama pemulihan pascabencana, yakni perumahan, infrastruktur publik, ekonomi, sosial, dan lintas sektor.
“Kami berharap R3P ini menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi secara sinergis, terarah, dan terukur. Pendanaan berasal dari APBN,” kata Medison.
Ia menambahkan, total kerugian yang dialami Kabupaten Solok mencapai Rp1,9 triliun. Diharapkan anggaran tersebut dapat direalisasikan dalam satu hingga dua tahun ke depan agar masyarakat bisa kembali beraktivitas normal dan infrastruktur yang rusak bisa segera difungsikan kembali.(des*)












