Jakarta – Ramen, salah satu kuliner khas Jepang yang populer di seluruh dunia, ternyata dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan bila dikonsumsi terlalu sering. Sebuah studi terbaru menemukan adanya hubungan antara frekuensi makan ramen dengan peningkatan risiko kematian dini, khususnya pada pria berusia di bawah 70 tahun.
Studi Temukan Risiko Kematian Lebih Tinggi
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition, Health and Ageing ini melibatkan lebih dari 6.500 orang berusia sekitar 40 tahun di Prefektur Yamagata, Jepang. Para peserta dikelompokkan berdasarkan kebiasaan mereka mengonsumsi ramen — mulai dari kurang dari sebulan sekali hingga lebih dari tiga kali dalam seminggu.
Selama masa penelitian selama 4,5 tahun, tercatat 145 kematian, di mana 100 kasus disebabkan oleh kanker dan 29 lainnya akibat penyakit jantung. Hasil observasi menunjukkan bahwa mereka yang sering mengonsumsi ramen, terutama yang juga menghabiskan sebagian besar kuahnya, memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan kelompok lain.
Garam Tinggi Jadi Pemicu Utama
Para peneliti menyebut kandungan garam berlebih dalam kuah ramen sebagai penyebab utama meningkatnya risiko penyakit serius seperti stroke, hipertensi, dan kanker lambung.
“Kuah ramen mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini dapat memicu penyakit terkait natrium seperti tekanan darah tinggi dan gangguan jantung,” tulis laporan penelitian tersebut, dikutip dari Daily Mail (26/9).
Risiko ini meningkat drastis jika dikombinasikan dengan kebiasaan mengonsumsi alkohol. Pria yang makan ramen lebih dari tiga kali per minggu sambil minum alkohol tercatat memiliki kemungkinan tiga kali lipat lebih tinggi mengalami kematian dini dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.
Keterbatasan Studi dan Imbauan Ahli
Meski hasil penelitian ini cukup signifikan, para ilmuwan mengakui adanya keterbatasan. Data yang digunakan bersumber dari laporan pribadi (self-reported), sehingga berpotensi mengandung ketidakakuratan, seperti kesalahan dalam memperkirakan porsi, jenis ramen, serta kebiasaan hidup lain seperti olahraga atau kondisi kesehatan masing-masing responden.
Kendati demikian, temuan ini cukup menjadi peringatan agar masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi makanan tinggi garam seperti ramen. Para ahli gizi pun memberikan beberapa rekomendasi:
Batasi frekuensi konsumsi. Ramen sebaiknya dikonsumsi hanya sesekali, bukan sebagai menu harian.
Kurangi kuah. Hindari menghabiskan seluruh kuah ramen yang mengandung kadar garam tinggi.
Jangan disertai alkohol. Kombinasi ramen dan alkohol terbukti meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, terutama bagi pria.
Peringatan dari WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama memperingatkan bahaya konsumsi garam berlebih sebagai salah satu penyebab utama hipertensi, yang dapat berujung pada serangan jantung dan stroke — dua penyakit yang sering muncul tanpa gejala awal.
WHO merekomendasikan agar asupan garam tidak melebihi 5 gram per hari per orang. Dengan demikian, meskipun ramen dikenal lezat dan menggugah selera, membatasi frekuensi konsumsi serta tidak meminum kuahnya sepenuhnya menjadi langkah bijak untuk menjaga kesehatan jangka panjang.(BY)












