Iran dan Venezuela Pertahankan Ekspor, Pasar Tetap Bullish

Harga Minyak Melonjak Hampir 3 Persen, Penurunan Stok AS Picu Kekhawatiran Pasokan.
Harga Minyak Melonjak Hampir 3 Persen, Penurunan Stok AS Picu Kekhawatiran Pasokan.

Jakarta– Harga minyak dunia melonjak hampir 3 persen, mencapai level tertinggi dalam tujuh pekan pada Rabu (24/9/2025).

Lonjakan ini didorong oleh penurunan tak terduga stok minyak mentah di AS, yang menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan yang semakin terbatas di tengah gangguan ekspor dari Irak, Venezuela, dan Rusia.

Kontrak minyak Brent naik USD1,68 atau 2,5 persen menjadi USD69,31 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) bertambah USD1,58 atau 2,5 persen menjadi USD64,99 per barel. Angka ini menandai penutupan tertinggi Brent sejak 1 Agustus dan WTI sejak 2 September.

Menurut Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah AS turun sebanyak 607.000 barel pekan lalu, bertolak belakang dari prediksi kenaikan 235.000 barel dalam survei Reuters, meski lebih rendah dari penarikan 3,8 juta barel yang dilaporkan American Petroleum Institute sehari sebelumnya.

“Laporan ini cukup mendukung karena penarikan persediaan terjadi di semua lini, termasuk minyak mentah, distilat, dan bensin,” kata John Kilduff, mitra Again Capital.

Selain itu, harga minyak juga mendapat dorongan dari serangan militer Ukraina terhadap dua stasiun pompa minyak di wilayah Volgograd, Rusia. Serangan ini membuat Kota Novorossiisk, pelabuhan utama Rusia di Laut Hitam, menetapkan status darurat. Pelabuhan tersebut menjadi pusat ekspor minyak dan gandum negara itu.

Baca Juga  Industri Makanan dan Minuman Tetap Stabil Hadapi Bulan Suci, Menurut Menperin

“Perhatian pasar kini kembali ke Eropa Timur dan kemungkinan pengenaan sanksi baru terhadap Rusia,” ujar Tamas Varga, analis PVM Oil Associates.

Serangan drone Ukraina telah menekan kapasitas kilang Rusia, memicu kekurangan beberapa jenis bahan bakar, sekaligus menekan pendapatan ekspor Moskow. Dalam upaya menutup defisit anggaran dan membiayai pengeluaran militer, Kementerian Keuangan Rusia mengusulkan kenaikan tarif PPN dari 20 persen menjadi 22 persen pada 2026. Rusia sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua dunia pada 2024 setelah AS, sekaligus anggota OPEC+.

Di sisi politik, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme bahwa Ukraina dapat merebut kembali seluruh wilayah yang diduduki Rusia. Pernyataan ini mendukung posisi Ukraina, berbeda dengan retorika sebelumnya yang menekankan penghentian impor energi Rusia oleh Uni Eropa.

Produksi minyak dan gas AS di negara bagian penghasil utama seperti Texas, Louisiana, dan New Mexico sedikit menurun pada kuartal ketiga 2025, menurut laporan The Dallas Fed.

Sementara itu, Menteri Minyak Iran Mohsen Paknejad menegaskan tidak ada pembatasan baru pada ekspor minyak Iran, termasuk penjualan ke China. Pernyataan ini muncul di tengah negosiasi Teheran dengan negara-negara Eropa untuk mencegah kembalinya sanksi PBB. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan di Sidang Umum PBB bahwa negaranya tidak berencana mengembangkan senjata nuklir. Iran adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC pada 2024, setelah Arab Saudi dan Irak.

Baca Juga  Tantangan dan Peluang Bisnis Agen BRILink di KC Jakarta Rawamangun

Di Venezuela, Chevron membatasi ekspor minyak akibat masalah perizinan AS, yang turut memperkuat sentimen bullish jangka pendek di pasar. Sementara itu, di Irak, delapan perusahaan minyak internasional mencapai kesepakatan prinsip dengan pemerintah federal dan pemerintah daerah Kurdi untuk melanjutkan ekspor minyak. Irak sendiri adalah produsen minyak terbesar kedua OPEC pada 2024 menurut data energi AS.(des*)