![]() |
| Zubir Sutan Bagindo |
Dharmasraya – Kendati sukses merintis bisnis di tanah rantau, tidak membuat H. Zubir Sutan Bagindo yang akrab disapa ‘Ayah’ ini lupa akan kampung halamannya. Di usianya yang sudah dipenghujung senja ini, beliau masih berfikir untuk keelokkan tanah kelahirannya, Kabupaten Solok.
Melalui bincang-bincangnya bersama Singgalang, baru-baru ini, dirinya menuangkan ide-ide cemerlang bagi kemajuan Kabupaten Solok di sektor ekonomi dan sektor lainnya.
Salah satu wilayah yang menjadi pusat perhatiannya adalah, Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak. Menurut tokoh pemekaran Kabupaten Dharmasraya ini, Aripan bisa disulap menjadi salah satu lumbung atau sumber pergerakan ekononomi masyarakat apabila digarap secara inovatif dan kreatif. Nagari Aripan berpenduduk lebih kurang 4520 jiwa dengan luas sekira, 37,45 kilometer persegi atau 12,67 persen dari luas wilayah Kecamatan X Koto Singkarak.
Untuk kemajuan Kabupaten Solok, yang paling penting, menurut Ayah adalah peningkatan investasi, perbaikan ekosistem ketenagakerjaan, menyempurnakan penetapan RT/RW dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten.
Yang tak kalah pentingnya lagi, transformasi struktural melalui revitalisasi industri pengolahan, transformasi sektor jasa, transformasi pertanian dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
“Sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33 (3), bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Nah, ini adalah amanat yang harus dijadikan dasar bagi penyelengara negara untuk keberhasilan dalam menata pembangunan,” terang mantan pegawai Kejaksaan ini.
Pemilik perusahaan PT Umega Sembilan Berlian yang memiliki asset hingga mencapai triliunan ini menambahkan, salah satu transformasi yang harus difikirkan atau dilakukan pemerintah adalah memaksimalkan pengelolaan kawasan wisata dengan menancapkan tumbuhan bernilai ekonomi seperti durian, jengkol, kulit manis, kopi, cengkeh dan beragaram jenis tumbuhan pertanian lainnya atau sesuai dengan potensi daerah yang akan dibangun.
Selain itu, di sepanjang jalur Danau Singkarak dibangun perhotelan atau penginapan yang nyaman dan asri, sehingga para wisatawan mancanegara dan lokal tidak perlu lagi susah-susah mencari tempat istirahat.
Transformasi Danau Singkarak haruslah dikelola secara serius agar benar-benàr mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
“Yang tak kalah pentingnya lagi adalah harmonisasi hubungan antara legislatif, eksekutif, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Tanpa hubungan harmonis, tentunya sulit mewujudkan semuanya itu,” ungkap pejuang 45 ini sembari menambahkan, hentikan polemik, demi Kabupaten Solok lebih maju sesuai visi misi bupati.
Inspirasi yang disampaikan H.Zubir Sutan Bagindo, kiranya bisa menjadi bahan renungan bagi semua pihak untuk direalisasikan. Semua yang disampaikannya, telah dia buktikan dalam menata kehidupannya. Beranjak dari pegawai Kejaksaan, kini sukses menjadi pengusaha, memiliki aset yang nilainya triliunan seperti hotel, restoran, sejumlah pom bensin, Toserba, angkutan, hingga usaha dibidang pertanian yang meliputi kebun kelapa sawit, karet dan minuman kemasan sampai ke usaha peternakan mulai dari usaha ayam potong dan beternak ikan mampu dia raih.
Kini, usianya sudah di atas 80 tahun, namun semangatnya tidak pernah pudar. Tiada hari tanpa bekerja, tiada napas tanpa berpikir.
Tidak hanya sukses merintis usaha, ia juga berhasil mendidik anak-anaknya. Salah satu anaknya menjadi Bupati Dharmasraya periode 2010-2015, yakni Ir. H..Adi Gunawan. Sementara yang lainnya ada yang menjadi PNS, pengusaha dan menjadi TNI.
Dalam obrolannya bersama Singgalang, selain Kabupaten Solok, Jalur Lintas Sumatera Kabupaten Dharmasraya pun menjadi pemikiran oleh mantan pejuang kemerdekaan RI ini. Ia mengaku cukup prihatin dengan kondisi jalan Lintas Sumatera yang tidak pernah bertahan lama lantaran banyaknya kendaraan tonase yang melintas melebihi muatan, sehingga jalan mudah rusak, bergelombang dan berlobang.
“Coba perhatikan, setiap jalan nasional ini diperbaiki atau diaspal hotmix tidak pernah bertahan lama. Hanya hitungan bulan, jalan yang diaspal dan diperbaiki kembali rusak lantaran dilewati kendaraan bermuatan berat, rata-rata 35 ton sampai 40 ton. Terutama kendataan pengangkut batubara,” terang pengusaha ini.
Menurut kalkulasinya, sebagai seorang pebisnis, dengan muatan 20 ton sampai 25 ton saja, sebenarnya para pengusaha sudah untung. Jadi, buat apa melebihi muatan yang pada akhirnya merusak jalan.
“Jalan ini milik semua masyarakat dan mestinya harus dipelihara juga secara bersama. Boleh saja melebihi muatan dengan cara menambah sasis kendaraan atau bak kendaraan sehingga tekanannya berkurang dan kerusakan jalanpun bisa diminimalisir,” kata pemerhati pembangunan ini.
Katanya lagi, pengalaman adalah pelajaran yang harus dicamkan agar sikap dan pemikiran lebih matang, selalu optimis dalam melakukan segala usaha.
Berdoa kepada Tuhan YME, karena tanpa doa segala usaha tanpa ridhonya tak akan menghasilkan apa-apa.
“Selalu positif thinking kepada rekan dan keluarga kita. Semangat dan kualitas kerja itu sangat penting untuk meraih sukses. Teruslah berjuang dan siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menuai hasil,” pungkasnya. (von)













